Suatu sore di taman kota yang lumayan sepi. Baim berdiri di belakang sepasang laki-laki dan perempuan yang kelihatanya sedang berpacaran.
"Ohh, jadi ini selingkuhan mu" 'bruakk!!'. Pukulan Baim pas mengenai pelipis laki-laki yang sedang berdiri di sebelah perempuan itu.
"Bangsat!" Laki-laki itu tidak terima dan balas memukul baim. "Bruakk!" Pukulan laki-laki itu telak mengenai wajah Baim.
Bibir baim berdarah. Baim mencoba membalas pukulan laki-laki itu tapi dihalangi oleh Olin. 'Bruakk' sial bagi Olin, dia malah terkena pukulan Baim. Baim panik.
"Maaf, Olin. Aku ga sengaja" ucapnya sambil mencoba menyentuh pipi kekasihnya itu tapi di tangkis oleh Olin.
"Kamu jahat, baim" airmata pun mengalir dipipi Olin.
"Tapi aku nggak sengaja" Olin menjauh dan menggandeng tangan laki-laki yang baru saja dihajar oleh Baim. Olin melangkah pergi.
"Olin!" Olin menghentikan langkahnya.
"Aku nggak mau hubungan kita nggak jelas seperti ini"
"Terus mau kamu apa?"
"Kamu pilih dia atau aku!"
Olin menghela nafas. "Maaf aku pilih dia. Kita putus!"
Dada Baim terasa sesak sesaat. Dia hanya bisa diam mendengarkan pilihan kekasihnya itu. kembali Baim mengepalkan tanganya. Baim menatap tajam kearah laki-laki itu. Ingin rasanya Baim menghabisi laki-laki itu. Baim menghela nafas. Untungnya, Baim bisa mengontrol emosinya.
Langkah Olin kian menjauh hingga hilang dari pandangan Baim.
Mata Baim menerawang jauh ke langit senja sore itu. Mungkin ini senja terkelam bagi Baim. Betapa tidak, Orang yang paling disayanginya malah lebih memilih pergi dengan laki-laki lain dan memutuskan hubungan yang sudah iajalin kurang lebih dua setengah tahun itu. (Ngenes sekali)
Baim mengusap air matanya dengan lenganya. Ya. Seorang Baim menangis. Baginya sekuat apaun seseorang kalo berurusan dengan cinta pasti bakal cengeng juga.
Pemuda itu pulang dengan perasan campur aduk.
Malam ini Baim hanya ingin sendiri! Tetapi sesuatu yang mengganjal dihatinya tak akan bisa hilang sebelum diceritakan. Ya, dia hanya butuh tempat curhat. Terbesit satu nama dikepala Baim. Wahyu. Ya. Wahyu adalah sahabat Baim dari kecil. Baim sangat terbuka kapada Wahyu begitu juga sebaliknya. Tidak ada rahasia-rahasiaan diantara mereka berdua. Bahakan mereka saling mengetahui ukuruan celana dalam masing-masing.
Baim langsung menggeber motornya menuju kedai kopinya Wahyu.
*di kedai kopi Wahyu*
Kedai kopi yang cukup sepi dimalam itu, karena memang baru saja buka. Hanya beberapa pengunjung yang duduk dikursi, meminum kopi dan sesekali berselfi dengan background dinding kedai bergambar mural dan tertulis puisi-puisi karya sang pemilik kedai. Ya, puisi itu karya Wahyu. Dia adalah pemuda yang sok puitis.
"Tumben, loe. Sendirian Kesini"
"Bro, gue baru putus"
"Astaga! Apanya yang putus? Tititmu?"
Canda Wahyu. Selain sok puitis, Wahyu juga suka bercanda dan terkandang bercandaanya tidak lucu.
"Maksutnya gue udah nggak pacaran lagi"
"Ohh, lu baru putus dari Olin, kok bisa? Loe selingkuh, im.?"
Baim menghela nafas.
"Malah gue yang diselingkuhin"
"Terus?" Wahyu menyimak dengan antusias.
"Terus, Olin malah milih anjink itu dan gue diputusin" kenang Baim, ia merasa galau.
"Jadi si Olin pacaran sama anjing? Ehh, gimana sih?" Wahyu sedikit bercanda.
Baim seidikit terkekeh.
"Bangke lu. Yaudah bikinin gue kopi". Ya, sahabatnya itu memang pintar membuat moodnya kembali baik lagi.
"Nih, kopinya." Wahyu meletakan secangkir kopi dihadapan Baim. Baim pun tak lantas langsung meminumnya. Dia mengaduk kopi itu perlahan. Mengupulkan sisa-sisa kenangan, agar larut dan terseduh bersama aroma kopi yang menguap.(Asek.) Lantas, Baim menyeruputnya. Setelah tersruput.
'Brushh!' Baim menyeburkan kopinya.
"Anjink, pait banget kopi mu"
"Sepait itulah perpisahan" ucap Wahyu dengan nada datar. Baim tertawa. Baginya, itu menggelikan. Wahyu juga ikut tertawa. Baginya, itu lucu. Aneh memang.
Baim kembali mengaduk secangkir kopinya. "Jadi semua berawal dari kecurigaan gue" kenang Baim.
*(flashback)*
Disuatu Sore dikedai kopi milik Wahyu yang lumayan rame, duduk berdampingan Baim dan kekasihnya, Olin. Ya, mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama di kedai kopi itu. Bukan karena tempatnya nyaman. tapi karena gratis. sebab, kedai itu milik sahabatnya sendiri dan terkadang Baim juga ikut membantu Wahyu jika kedainya sedang ramai. Itulah alasan Wahyu menggratiskan temanya itu. Untung bagi Baim, untung juga Bagi Wahyu. mereka saling memaklumi. Tetapi tidak saling mencintai.
Baim menggaruk kepalnya yang tidak gatal itu. Ia pusing dengan banyaknya tugas kuliah yang tak kunjung selesai.
"Kapan selesainya kalo garuk-garuk kepala terus" sahut Olin sambil tersenyum kearah pacarnya itu yang kelihatan seperti kebingungan.
"Susah banget soalnya"
"Semangat dong!" Olin menyemangati pacarnya itu.
"Makasih ya, semangatnya" Baim membelai lembut kepala Olin. Dan dibalas senyum manis dari Olin.
Wahyu yang memandang mereka berdua dari meja kasir merasa iri. Ya, dia jones!
'Tringg!!' Bunyi Smartphone Olin. Di bacanya tulisan yang muncul di layar smartphonnya itu. 'RIO' Olin menatap Baim yang sedang fokus mengerjakan tugasnya. Buru-buru dia membaca pesan di Hpnya. Ya, pesan itu dari Rio pemuda yang baru iya kenal sebulan yang lalu melalui temanya. Rio mengajak Olin bertemu di Taman kota Sore ini. Olin gelisah.
"Sms dari siapa?" Baim menyelidik.
Olin makin Panik "ehh. Itu, anu.. pesan dari Mamah" buru-buru Olin menghapus pesan dari Rio tadi.
"Eng.. aku pulang dulu ya"
"Kenapa pulang?" Baim merasakan ada gelagat aneh pada diri pacarnya itu.
"Ehh.. itu.. mau nganterin mama arisan".
"Yasudah, aku anterin pulang, ya"
"Mmm.. nggah usah. Aku naik ojek onlen aja"
"Yakin ga mau dianterin?"
"Iya" jawabnya antusias. Olin pun berdiri. Sebelum pergi, Olin tak lupa mengecup pipi pacarnya itu. Dan di balas juga oleh Baim yang sebenernya sedikit kecewa ditinggal oleh kekasihnya itu.
Wahyu yang menyaksikan mereka berdua saling 'kecup' kembali merasa iri. Dalam hatinya 'hla.. aku kapan kayak gitu'
Tak lama kemudian datang seorang mas-mas mengendari motor, yang tak lain adalah ojek onlen yang diorder olin sebelumnya.
Sebelum pergi Tak Lupa Olin melambaikan tangan kearah pacarnya itu dan kali ini hanya dibalas senyum Oleh Baim.
Baim penasaran. Sebelum Olin benar-benar hilang dari pandangannya, Baim buru-buru mengambil kunci motornya, dan meninggalkan tugas kuliahnya begitu saja. Yaa, Baim mencoba mengikuti Olin dari belakang.
"Ke taman kota ya, mas." Ucap Olin ke Mas-mas 'Ojol' dan hanya dibalas anggukan kepala oleh mas-mas itu. Olin tak sadar bahwa ia sedang diikuti oleh pacarnya. Sementara itu, Baim tetap fokus membuntuti Olin tetapi ia tetap penasaran apakah benar pacarnya itu mau menemani mamanya untuk pergi arisan?.
Dan penasaran itu terjawab. Ternyata Olin tidak pulang, malah berhenti di taman kota. Baim berhenti diujung jalan, jarak yang cukup jauh dari tempat Olin berdiri. Baim sedikit emosi. Ia merasa dibohongi. Beruntung ia bisa mengendalikan emosinya.
Baim memandangi pacarnya itu dari jauh. Sementara Olin sibuk memainkan smartphonenya. Sepertinya ia sedang menghubungi seseorang. Tak lama kemudian, seorang laki-laki tampan mengendarai motor ninja 4tak turun dan melambaikan tangan kearah Olin.
Mata Baim semakin fokus menatap kearah mereka berdua. Lalu kemudian Olin menyambut laki-laki itu dan memeluknya. Emosi Baim tak bisa dibendung lagi melihat kekasihnya begitu mesra dengan laki-laki lain. Ia mengepalkan tangannya dan Baim pun menghampiri mereka berdua dan mereka berdua tak menyadari bahwa Baim yang sudah emosi itu telah berdiri di belakang mereka...
-(end Flashback)-
"Karena gue emosi, langsung gue tonjok aja tuh anjink" kenang Baim sedikit emosi. "Ehh, gue malah ditonjok balik sama dia sampe bibir gue berdarah, pas mau gue tonjok lagi.. ehh, malah kena Olin" kenangnya lagi.
Wahyu mendengarkan dengan antusias.
"Yah, apes sekali si Olin. Kena tonjokan elu, pasti bonyok tuh muka" "Teruss.." tanyanya penasaran.
"Yah seperti yang gue ceritain tadi. Olin lebih milih Cowok itu dan mutusin gue" ucap Baim.
"Elu-nya juga kelewatan sih, Im."
"Kok gue?" Baim mengerenyitkan dahi.
"Kenapa nggak lu pastiin dulu siapa cowok itu. Siapa tau dia abangnya Olin" Wahyu mencoba berargumen.
"Olin itu anak tunggal, bro. dan sepupunya Olin itu cewe semua" ucap Baim, ya, Baim memang dekat sekali dengan keluarga Olin karena memang Baim sering main kerumah Olin bahkan mamanya Olin sudah mengagap Baim seperti anaknya sendiri. "Jadi nggak mungkinlah cowok itu Abangnya Olin" ucapnya lagi.
"Bener juga ya" Wahyu menganggukan kepalanya lalu kemudian menepuk pelan pundak Baim. "Sabar, Im. Mungkin Olin itu bukan Jodohmu. Percayalah, Tuhan selalu mengganti sesuatu yang hilang dengan yang lebih baik, iyo po ra?" Ucapnya sok puitis.
Baim tertawa. "Hha. Bisa aja lu," balas Baim dengan memukul pelan lengan sahabatnya itu.
Malam pun semakin larut, dan ada saja sesuatu yang mereka obrolkan. Baim merasa, masalahnya sedikit berkurang. Ia merasa sangat beruntung punya sahabat seperti Wahyu. Dan Wahyu juga sebaliknya, merasa senang biasa meringankan masalah sahabatnya itu.
Malam semakin tenggelam, kantuk pun memaksa Baim untuk pulang. Mengistirahatkan raga dari lelah aktifitas dunia. Dan berharap mimpi dapat memeras rasa sakit atas cinta yang baru saja kandas.
-( 2 bulan kemudian )-
Senja sore itu tepatnya di kedai kopi milik Wahyu, Baim mengambil sebatang rokok, dinyalakan rokok itu dan dihembuskan asapnya perlahan. Dihadapanya duduk sahabatnya yang sedang menulis sesuatu disebuah kertas. Tak lama kemudian keluar kata-kata dari mulut sahabatnya itu. "Sudah jadi, tak bacain ya, puisi karya Wahyu Sudarmono.."
'Tepat setelah senja datang, cintaku lenyap tergerus dusta. Ia memutuskan berpindah kelain hati dan menggores luka. Perasaanku tersayat. Kau patahkan asaku untuk mencintaimu selamanya. Bagiku tak masalah atas pilihanmu. Yang aku takutkan, aku takuasa jika harus merindu atas namamu. Tapi mempertahankan cinta yang sudah sia-sia untuk apa!.
Pergi saja, pergi. Aku akan melupakanmu dan kenangan kita.
Karena bagiku, denganmu atau tanpamu senja tetaplah senja. Tetap berwana jingga.'
Sejenak Baim mengerenyitkan dahi setelah mendengar puisi sahabatnya itu. Ia merasa tersidir.
"Ehh, anjink. Nyindir gue, lu.."
Wahyu hanya nyengir kuda. Baim memukul pelan lengan sahabanya itu dan kemudian mereka berdua tertawa. Baim pun merasa mantap untuk Move on dan melupakan Olin. tiba-tiba Smartphone Baim berdering. Dibacanya tulisan yang puncul di layar smartphonenya itu. "Olin?" batin Baim...
(BERSAMBUNG..)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar