Tentang aku dan dia yang berbeda. Tentang sebuah hubungan yang ada, tapi tidak berjalan kemana-mana. Aku dan dia di satukan oleh cinta tapi keyakinan kita berbeda. Percayalah, aku mencintai dia. Tapi aku juga mencintai penciptaku. Tak mungkin kalung tasbihku bersatu dengan kalung salibnya
Jika aku dan dia berbeda, kenapa kita saling punya rasa. Mungkin Tuhan mengujiku, apakah aku memilih Tuhanku atau memilihnya. Tapi Aku memilih Tuhan ku dan aku mencintainya.
Ku ingat malam itu aku dan dia sama-sama berdoa. Ku tengadahkan tanganku dan dia melipat tangannya. Aku dan dia berdoa dengan tujuan yang sama. Agar aku dan dia bisa bersatu. Tapi dogma Agama jelas adanya. Aku dan dia tak bisa melawan. hanya bisa merelakan.
Sekeras apapun aku dan dia melawan, aku dan dia tak akan benar-benar menjadi kita. Yang ada hanyalah aku dan dia yang berbeda.
Tuhan aku mencintai dia. Dia yang berkalung salib. Dia yang suka memarahiku ketika aku lupa pada Mu. Dia memang sederhana tapi aku mencintanya. Aku mencintai dia. Dia yang suka mendoakan ku dengan caranya.
Tapi Aku dan dia sadar. Cinta ini tak bisa di paksakan. Cinta ini terbentur dinding perbedaan. Meski aku dan dia terlanjur saling punya rasa, tapi Tuhan punya rencananya sendiri untuk aku dan dia yang berbeda.
Aku dan dia bukan Istiqlal dan katedral, yang di takdirkan berdiri berhadapan namun tetap harmonis dengan perbedaan. Aku dan dia hanyalah dua manusia yang saling mendoakan, yang tak bisa bersatu karena Tuhan.
Karena aku di masjid dan dia di greja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar