pemirsa

Minggu, 16 September 2018

Tingkatanya Orang Pelit.

Jadi begini loh teman teman. Kita  itu ya pasti punya teman, dan teman kita itu pasti beda-beda. Jujur saja kalian itu pasti juga punya teman yang puelit. Iya to.. ya!!
Aku ini mendiskripsikan teman yang  pelit itu dalam satu kata..
‘JUANCUKKK!’.

Aku ini juga punya Teman (yang
Pastinya pelit). Aku ndak bisa sebutin namanya karena itu privasi. kalo ndak salah namanya itu si Prayit. Yo! Prayit!. Jadi si Prayit ini Pelitnya sudah nemen. Wes ndak bisa di tulung.. 

Dia Pernah tak paksa untuk nraktir aku. Dan aku pura-pura ndak bawa dompet pas diajak dia kewarungnya mbah, Pri. dan Aku itu cuma di jajanin es teh manis sama si Prayit ini. Pas
Tak coba es tehnya, ternyata ndak manis alias hambar.  Tak Tanyakan.

“eh, Yit.. es teh'e kok tawar?.’’

“sengaja,  tadi  tak pesen gulanya dikit’’.

bingung aku. “kok gitu?’’

Si Prayit njawab. ‘’iyo, ben bayarnya  juga dikit’’

‘’Jingguk!! Ga ngaruh, Cuk!! Arep gulanya banyak, Arep gulanya dikit
bayarnya tetep Podo ae!!’’.
Dengan ndak berdosa si Prayit hanya nyengir alias pringas-pringis. Pengen rasanya tak jual kilo-nan, tapi ndak laku.


Pft!!!! Yowes lah.. dan setelah kejadian  itu, aku nongkrong sendiri di Wc alias  boker sambil mikir. Kenapa ada orang pelit di dunia ini?. Kenapa orang kok bias pelit?. Aku bertanya-tanya pada tembok Wc yang dingin. Ya, aku meh gendeng.

Mungkin orang-orang pelit ini waktu kecil itu ya di ajari untuk hidup berhemat, Lah tapi malah nyasar.. Orang pelit ini mungkin juga punya
perinsip. Kalo orang hemat perinsipnya ‘hemat pangkal kaya’ .
Lahh orang pelit ini perinsipnya ‘pelit pangkal kaya raya’. Blass Ramashokk!!

Menurut ku Orang pelit itu beda dengan orang hemat.
Tak jelasin ya. Jadi begini, Orang pelit itu, mereka yang dikendalikan sama yang namanya duit alias uang. Sementara orang hemat itu , mereka  yang mengendalikan uang.
Misalnya gini loh. Orang hemat, rela mengeluarkan uang demi kebutuhannya. Misalnya  buat beli pulpen. Kalo ndak punya pulpen. Kalo orang pelit.. bodoamat!
mending minjem pulpen dari pada beli, sing penting duite utuh.. cen wedhus og!

Dan setelah tak cari tahu ya, orang pelit itu ada tingkatanya.. oke,

langsung saja yang pertama.

1. PELIT NORMAL.
Dalam tingkatan ini biasanya
pelitnya soal materi. Kita tau dia punya duit. Ya tapi pas kita mau minjem ndak dikasih dengan alasan reno-reno alias macem-macem. Padahal kita butuh dan bakal pasti dikembalikan duit utangan itu. Tapi ya ndak dikasih juga sama temen kita itu. Lak yo jingguk!

2. PELIT ORA NORMAL.
mungkin ya sebagian dari kita itu shumuk alias kesel kalo minjem duit keteman terus ndak di kasih pinjeman. Hla Tapi lebih Shumukk lagi kalo teman kita yang minjem duit dengan dibarengi Trik wajah memelas seperti orang yang ndak kuat mbayar kost-kostan. Dan goblognya kita minjemin duit itu ke temen kita. Ndelalah pas giliran di tagih temen kita tiba-tiba ngilang.. kabur kanginan koyo kembang tebu. Lak jancuk, ya!
3. PELIT NEMEN NDAK KENEK DI TULUNG.
lah Ini adalah tingkatan pelit yang paling berbahaya. Jadi ya  Orang pelit dalam tingkatan ini itu sifat pelitnya sudah kejam, nemen pokoke, wes.  Orang pelit dalam tingkatan
ini biasanya ya orang kaya yang sombong. (biasanya lo) dan kekejaman pelitnya itu terlihat pas
saat ndak mau ngasih sedekah. Ndak mau beramal. Ndak mau berqurban padahal sudah mampu ya..

Wes pokoke final level pelite. wes sugeh, pelit, sombong pisan..
mlebuo film hidayah ae, lek, lek!. Batinku!

Pffft.. yowes lah.. jadi tingkatan pelit kalian itu yang nomer berapa? (aku seng nomer 2).
Jadi kesimpulanya kita itu ya sebagai
mahkluk hidup itu harus saling berbagi.
eleng cah. Awak e dewe ndak urep dewe. berbagilah entah itu
makanan, minuman, tenaga, pikiran, pacar.. (yo seng pacare kokehan kui mbok di bagi-bagi). FAIL.
Berbagi lah. Bersedekahlah. Wes, Percaya saja sama aku. Kalo kita bersedekah, harta kita ndak bakalan habis. Insyaallah sudah dijamin...  wes. Kesel aku nulis..

Sabtu, 08 September 2018

Cah Cinta!

Jeng! Jeng!! Aku kembali lagi. Yo! Aku pengen mengomongi Cah cinta. Aku itu kalo mbaca status medsosnya para kawla muda alias abg alias cah ndek ingi sore, kok ya lucu-lucu. Apa lagi kalo menyangkut yank-yankan alias pacaran. Ya! Mereka suka memamerkan  kemesraan dimedsos dan semua orang (harus) tau termasuk aku seng jomblo ngenes iki. Aku iri, cuk. 
Tapi ya buat apa iri, hla itu kan urusan mereka. Urusanku kan cuma satu, menertawakan mereka kalo pas lagi putus sama yanknya. Wkwk

Ya tapi mbok ya jangan sering-sering mengumbar kemesraan dimedsos, kasihan yang jomblo ini loh. Lagian nanti kalo sampeyan-sampeyan itu putus apa ndak loro ati. Ujung-ujungnya update status. 'Kandas, cen asuog ga enek seng maton blas!.' apa lagi kalo putusnya ditikung teman sendiri, update status lagi 'kono untal2en bekasku, cok' kalo sudah begitu, teman yang nikung tadi dijelek-jelekin.
Yang begitukan tidak baik. Hla Tapi kalo temanmu itu terah bajingan wes kelewat batas.. yo idak'en ae ilate, ben ndak tuman. Tapi aku yang jomblo ini ya cuma bisa mesam-mesem sambil mbatin.. "SOKOR! PANGANEN KUI CINTA!"

Lucu lagi Mereka itu kalo baru kenal manggilnya. Adek-kakak'an.. pas kasmaran manggilnya, yank-beb'an. Pas pacaran manggilnya, ayah-bunda'an.. pas putus manggilnya.. asu-babi.. manggil dengan nama bintang. Terus dijelek-jelekin mantannya kesemua orang..  gitu tuh mbok ya mikir dulu pas ayah-bunda'an pernah olahraga bareng dan ndredek bareng samar kalo ketauan orang lewat..

Tapi ya kalo tak amati, cah cinta dimedsos itu setelah putus kok ya cepet banget dapat yang baru. Ini dukunnya yang kuat atau terah pinter mbribik.. aku saja, mbribik dimedsos selalu kandas. Responya cewe cewe itu ya sama pas tak chat.. 'mundur, mas. Kamu jelek' langsung mak tratap. Sumpah. Ini, cah cinta dengan gampangnya dapat gandengan baru. Salut! Pengen tak tepuk tangani tapi yo ra penting!

Setelah dapat gandengan baru, langsung diumbar lagi. Gak lama kemudian, putus lagi. Gitu terus.. ujunge kelaran-laran neh, koyo ngono kok ya ra kapok yank-yankngan.. tapi emang sih jare cah cinta.. 'nikmatnya tersakiti itu adalah candu'. CANDU MATANE KUI!!

Ini umumnya terjadi sama para wanita.. wes di larani bola-bali yo panggangah e yank-yangan. Emannen atimu, nduk.. ya kalo yank mu itu banyak bikin sedihnya ya mbok dipegat saja, hla daripada sampean terus nguntal janji-janji palsu. Wes to, jangan percaya sama janji-janjinya yank mu seng koyo gambas kui.. Menak jomblo, nduk.. sumpah. Tapi yo rodok ngenes sitik ga papalah..

Lucu lagi kalo cah cinta ini sedang LDRan. status medsosnya cuma 'rinda-rindu, rinda-rindu' yang cewe bikin status 'aku rindu' yang cowo juga bikin status 'jangan rindu, berat.' Hla opo mbok timbang! Batinku.. maksutku, ya kalo rindu itu mbok ya langsung ketemuan. Kalo ga bisa ya VideoCall-an, kalo ga punya quota buat Videocall, ya langsung ditelfon, kalo ga punya pulsa juga.. ya untalen kui rindumu!

Pas malam minggu juga gitu.. yang jomblo pada bakar menyan. Yang cah cinta pada bermesraan. Dolan, naik motor. yang cewe meluk cowonya erat banget, wes koyo di lem glukol. Garai meri, cuk. Mbok ya inget nek pas marahan. Kalo naik motor duduknya jauh-jauhan sampek jok tengah kosong. Sampek dinggoni setan saking kosonge..

Aku itu juga pernah sok-sokan jadi cah cinta. Jadi aku nulis status puisi-puisi galau ndek facebook. Malah dikomentari 'nggilani. Su. Ga cocok mbi raimu' jancukk.. batinku.

Tapi yowes lah.. itu kan urusan kalian. Yang menjalani kalian. Yang bahagia kalian. Yang rugi juga kalian. Aku cuma bisa maido tok, cuk. Untung aku iki cuma rantang piknik. tugasku mek dingge adah jangan nget-ngetan. Dibuntel taplak terus dijak berwisata. Ga kaya kalian yang selalu mumet nguntal cinta. Wkwkwk

Sabtu, 01 September 2018

Denganmu Atau Tanpamu Senja Tetaplah Senja! (Cerpen)

Suatu sore di taman kota yang lumayan sepi. Baim berdiri di belakang sepasang laki-laki dan perempuan yang kelihatanya sedang berpacaran.

"Ohh, jadi ini selingkuhan mu" 'bruakk!!'. Pukulan Baim pas mengenai pelipis laki-laki yang sedang berdiri di sebelah perempuan itu.

"Bangsat!" Laki-laki itu tidak terima dan balas memukul baim. "Bruakk!" Pukulan laki-laki itu telak mengenai wajah Baim.

Bibir baim berdarah. Baim mencoba membalas pukulan laki-laki itu tapi dihalangi oleh Olin. 'Bruakk' sial bagi Olin, dia malah terkena pukulan Baim. Baim panik.
"Maaf, Olin. Aku ga sengaja" ucapnya sambil mencoba menyentuh pipi kekasihnya itu tapi di tangkis oleh Olin.

"Kamu jahat, baim" airmata pun mengalir dipipi Olin.

"Tapi aku nggak sengaja" Olin menjauh dan menggandeng tangan laki-laki yang baru saja dihajar oleh Baim. Olin melangkah pergi.

"Olin!" Olin menghentikan langkahnya.
"Aku nggak mau hubungan kita nggak jelas seperti ini"

"Terus mau kamu apa?"

"Kamu pilih dia atau aku!"

Olin menghela nafas. "Maaf aku pilih dia. Kita putus!"

Dada Baim terasa sesak sesaat. Dia hanya bisa diam mendengarkan pilihan kekasihnya itu. kembali Baim mengepalkan tanganya. Baim menatap tajam kearah laki-laki itu. Ingin rasanya Baim menghabisi laki-laki itu. Baim menghela nafas. Untungnya, Baim bisa mengontrol emosinya.
Langkah Olin kian menjauh hingga hilang dari pandangan Baim.

Mata Baim menerawang jauh ke langit senja sore itu. Mungkin ini senja terkelam bagi Baim. Betapa tidak, Orang yang paling disayanginya malah lebih memilih pergi dengan laki-laki lain dan memutuskan hubungan yang sudah iajalin kurang lebih dua setengah tahun itu. (Ngenes sekali)

Baim mengusap air matanya dengan lenganya. Ya. Seorang Baim menangis. Baginya sekuat apaun seseorang kalo berurusan  dengan cinta pasti bakal cengeng juga.

Pemuda itu pulang dengan perasan campur aduk.

Malam ini Baim hanya ingin sendiri! Tetapi sesuatu yang mengganjal dihatinya tak akan bisa hilang sebelum diceritakan. Ya, dia hanya butuh tempat curhat. Terbesit satu nama dikepala Baim. Wahyu. Ya. Wahyu adalah sahabat Baim dari kecil. Baim sangat terbuka kapada Wahyu begitu juga sebaliknya. Tidak ada rahasia-rahasiaan diantara mereka berdua. Bahakan mereka saling mengetahui ukuruan celana dalam masing-masing.

Baim  langsung menggeber motornya menuju kedai kopinya Wahyu.

*di kedai kopi Wahyu*

Kedai kopi yang cukup sepi dimalam itu, karena memang baru saja buka. Hanya beberapa pengunjung yang duduk dikursi, meminum kopi dan sesekali berselfi dengan background dinding kedai bergambar mural dan tertulis puisi-puisi karya sang pemilik kedai. Ya, puisi itu karya Wahyu. Dia adalah pemuda yang sok puitis.

"Tumben, loe. Sendirian Kesini"

"Bro, gue baru putus"

"Astaga! Apanya yang putus? Tititmu?"
Canda Wahyu. Selain sok puitis, Wahyu juga suka bercanda dan terkandang bercandaanya tidak lucu.

"Maksutnya gue udah nggak pacaran lagi"

"Ohh, lu baru putus dari Olin, kok bisa? Loe selingkuh, im.?"

Baim menghela nafas.
"Malah gue yang diselingkuhin"

"Terus?" Wahyu menyimak dengan antusias.

"Terus, Olin malah milih anjink itu dan gue diputusin" kenang Baim, ia merasa galau.

"Jadi si Olin pacaran sama anjing? Ehh, gimana sih?" Wahyu sedikit bercanda.
Baim seidikit terkekeh.

"Bangke lu. Yaudah bikinin gue kopi". Ya, sahabatnya itu memang pintar membuat moodnya kembali baik lagi.

"Nih, kopinya." Wahyu meletakan secangkir kopi dihadapan Baim. Baim pun tak lantas langsung meminumnya. Dia mengaduk kopi itu perlahan. Mengupulkan sisa-sisa kenangan, agar larut dan terseduh bersama aroma kopi yang menguap.(Asek.) Lantas, Baim menyeruputnya. Setelah tersruput.

'Brushh!' Baim menyeburkan kopinya.
"Anjink, pait banget kopi mu"

"Sepait itulah perpisahan" ucap Wahyu dengan nada datar. Baim tertawa. Baginya, itu menggelikan. Wahyu juga ikut tertawa. Baginya, itu lucu. Aneh memang.

Baim kembali mengaduk secangkir kopinya. "Jadi semua berawal dari kecurigaan gue" kenang Baim.

*(flashback)*

Disuatu Sore dikedai kopi milik Wahyu yang lumayan rame, duduk berdampingan Baim dan kekasihnya, Olin. Ya, mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama di kedai kopi itu. Bukan karena tempatnya nyaman. tapi karena gratis. sebab, kedai itu milik sahabatnya sendiri dan terkadang Baim juga ikut membantu Wahyu jika kedainya sedang ramai. Itulah alasan Wahyu menggratiskan temanya itu. Untung bagi Baim, untung juga Bagi Wahyu. mereka saling memaklumi. Tetapi tidak saling mencintai.

Baim menggaruk kepalnya yang tidak gatal itu. Ia pusing dengan banyaknya tugas kuliah yang tak kunjung selesai.

"Kapan selesainya kalo garuk-garuk kepala terus"  sahut Olin sambil tersenyum kearah pacarnya itu yang kelihatan seperti kebingungan.

"Susah banget soalnya"

"Semangat dong!" Olin menyemangati pacarnya itu.

"Makasih ya, semangatnya" Baim membelai lembut kepala Olin. Dan dibalas senyum manis dari Olin.

Wahyu yang memandang mereka berdua dari meja kasir merasa iri. Ya, dia jones!

'Tringg!!' Bunyi Smartphone Olin. Di bacanya tulisan yang muncul di layar smartphonnya itu. 'RIO'  Olin menatap Baim yang sedang fokus mengerjakan tugasnya. Buru-buru dia membaca pesan di Hpnya. Ya, pesan itu dari Rio pemuda yang baru iya kenal sebulan yang lalu melalui temanya. Rio mengajak Olin bertemu di Taman kota Sore ini. Olin gelisah.

"Sms dari siapa?" Baim menyelidik.

Olin makin Panik "ehh. Itu, anu.. pesan dari Mamah" buru-buru Olin menghapus pesan dari Rio tadi.
"Eng.. aku pulang dulu ya"

"Kenapa pulang?" Baim merasakan ada gelagat aneh pada diri pacarnya itu.

"Ehh.. itu.. mau nganterin mama arisan".

"Yasudah, aku anterin pulang, ya"

"Mmm.. nggah usah. Aku naik ojek onlen aja"

"Yakin ga mau  dianterin?"

"Iya" jawabnya antusias. Olin pun berdiri. Sebelum pergi, Olin tak lupa mengecup pipi pacarnya itu. Dan di balas juga oleh Baim yang sebenernya sedikit kecewa ditinggal oleh kekasihnya itu.

Wahyu yang menyaksikan mereka berdua saling 'kecup' kembali merasa iri. Dalam hatinya 'hla.. aku kapan kayak gitu'

Tak lama kemudian datang seorang mas-mas  mengendari motor, yang tak lain adalah ojek onlen yang diorder olin sebelumnya.
Sebelum pergi Tak Lupa Olin melambaikan tangan kearah pacarnya itu dan kali ini hanya dibalas senyum Oleh Baim.

Baim penasaran. Sebelum Olin benar-benar hilang dari pandangannya, Baim buru-buru mengambil kunci motornya, dan meninggalkan tugas kuliahnya begitu saja. Yaa, Baim mencoba mengikuti Olin dari belakang.

"Ke taman kota ya, mas." Ucap Olin ke Mas-mas 'Ojol' dan hanya dibalas anggukan kepala oleh mas-mas itu. Olin tak sadar bahwa ia sedang diikuti oleh pacarnya. Sementara itu, Baim tetap fokus membuntuti Olin tetapi ia tetap penasaran apakah benar pacarnya itu mau menemani mamanya untuk pergi arisan?.

Dan penasaran itu terjawab. Ternyata Olin tidak pulang, malah berhenti di taman kota. Baim berhenti diujung jalan, jarak yang cukup jauh dari tempat Olin berdiri. Baim sedikit emosi. Ia merasa dibohongi. Beruntung ia bisa mengendalikan emosinya.

Baim memandangi pacarnya itu dari jauh. Sementara Olin sibuk memainkan smartphonenya. Sepertinya ia sedang menghubungi seseorang. Tak lama kemudian, seorang laki-laki tampan mengendarai motor ninja 4tak turun dan melambaikan tangan kearah Olin.
Mata Baim semakin fokus menatap kearah mereka berdua. Lalu kemudian Olin menyambut laki-laki itu dan memeluknya. Emosi Baim tak bisa dibendung lagi melihat kekasihnya begitu mesra dengan laki-laki lain. Ia mengepalkan tangannya dan Baim pun menghampiri mereka berdua dan mereka berdua tak menyadari bahwa Baim yang sudah emosi itu telah berdiri di belakang mereka...

-(end Flashback)-

"Karena gue emosi, langsung gue  tonjok aja tuh anjink" kenang Baim sedikit emosi. "Ehh, gue malah ditonjok balik sama dia sampe bibir gue berdarah, pas mau gue tonjok lagi.. ehh, malah kena Olin" kenangnya lagi.

Wahyu mendengarkan dengan antusias.
"Yah, apes sekali si Olin. Kena tonjokan elu, pasti bonyok tuh muka" "Teruss.." tanyanya penasaran.

"Yah seperti yang gue ceritain tadi. Olin lebih milih Cowok itu dan mutusin gue" ucap Baim.

"Elu-nya juga kelewatan sih, Im."

"Kok gue?" Baim mengerenyitkan dahi.

"Kenapa nggak lu pastiin dulu siapa cowok itu. Siapa tau dia abangnya Olin" Wahyu mencoba berargumen.

"Olin itu anak tunggal, bro. dan sepupunya Olin itu cewe semua" ucap Baim, ya, Baim memang dekat sekali dengan keluarga Olin karena memang Baim sering main kerumah Olin bahkan mamanya Olin sudah mengagap Baim seperti anaknya sendiri. "Jadi nggak mungkinlah cowok itu Abangnya Olin" ucapnya lagi.

"Bener juga ya" Wahyu menganggukan kepalanya lalu kemudian menepuk pelan pundak Baim. "Sabar, Im. Mungkin Olin itu bukan Jodohmu. Percayalah, Tuhan selalu mengganti sesuatu yang hilang dengan yang lebih baik, iyo po ra?" Ucapnya sok puitis.

Baim tertawa. "Hha. Bisa aja lu," balas Baim dengan memukul pelan lengan sahabatnya itu.

Malam pun semakin larut,  dan ada saja sesuatu yang mereka obrolkan.  Baim merasa, masalahnya sedikit berkurang. Ia merasa sangat beruntung punya sahabat seperti Wahyu. Dan Wahyu juga sebaliknya, merasa senang biasa meringankan masalah sahabatnya itu.

Malam semakin tenggelam, kantuk pun memaksa Baim untuk pulang. Mengistirahatkan raga dari lelah aktifitas dunia. Dan berharap mimpi dapat memeras rasa sakit atas cinta yang baru saja kandas.

-( 2 bulan kemudian )-

Senja sore itu tepatnya di kedai kopi milik Wahyu, Baim mengambil sebatang rokok, dinyalakan rokok itu dan dihembuskan asapnya perlahan. Dihadapanya duduk sahabatnya yang sedang menulis sesuatu disebuah kertas. Tak lama kemudian keluar kata-kata dari mulut sahabatnya itu. "Sudah jadi, tak bacain ya, puisi karya Wahyu Sudarmono.."

'Tepat setelah senja datang, cintaku lenyap tergerus dusta. Ia memutuskan berpindah kelain hati dan menggores luka. Perasaanku tersayat. Kau patahkan asaku untuk mencintaimu selamanya. Bagiku tak masalah atas pilihanmu. Yang aku takutkan, aku takuasa jika harus merindu atas namamu. Tapi mempertahankan cinta yang sudah sia-sia untuk apa!.
Pergi saja, pergi. Aku akan melupakanmu dan kenangan kita.
Karena bagiku, denganmu atau tanpamu senja tetaplah senja. Tetap berwana jingga.'

Sejenak Baim mengerenyitkan dahi setelah mendengar puisi sahabatnya itu. Ia merasa tersidir.

"Ehh, anjink. Nyindir gue, lu.."

Wahyu hanya nyengir kuda. Baim memukul pelan lengan sahabanya itu dan kemudian mereka berdua tertawa. Baim pun merasa mantap untuk Move on dan melupakan Olin. tiba-tiba Smartphone Baim berdering. Dibacanya tulisan yang puncul di layar smartphonenya itu. "Olin?" batin Baim...
(BERSAMBUNG..)